Siaran Pers

Panen Perdana Padi Si Denuk Dan Jagung Berbasis Organik Di Wilayah Kodim 0508/Depok

-
  • Penulis: Adminstrator
  • Tanggal: 17 Jun 2015
  • Waktu: 05:09 WIB
Siaran Pers

Humas&Protokol Setda Kota Depok

Selasa, 16 Juni 2015
      

Panen perdana padi si denuk dan jagung berbasis organik di lahan ketahanan pangan Kodim 0508 di Kelurahan Cimpaeun dan Kelurahan Leuwinanggung, Kecamatan Tapos, dihadiri Walikota Depok Nur Mahmudi Isma'il, Selasa (16/6). Tampak hadir dalam panen tersebut diantaranya Aster Kasdam Jaya Kol. Inf Arudji Anwar, Staf Ahli Panglima/Katimnis Pertanian Kol. Inf Aris S, Dandim 0508 Letkol Inf Santosa, perwakilan dari Kemenristek Syahrial, anggota DPRD Kota Depok Rienopa Seridony, Wakapolsek Cimanggis, Kadistankan Ety Suryahati, Camat Tapos Muchsin Mawardi, Babinsa, Kelompok Tani dan tokoh masyarakat setempat.

Pemotongan padi secara simbolis dilakukan bersama oleh Walikota Depok, Danrem, Dandim, dan undangan. Walikota Depok menuturkan bahwa kita harus betul-betul mensyukuri nikmat lahan yang bisa kita pergunakan untuk produksi padi sebagai bahan pangan. Dengan salah satu varietas yang ditemukan dari Batan, Kemenristek telah mensosialisasikan kepada para petani, padi si denuk. Berdasarkan hasil uji bedeng atau uji demplotnya bisa menghasilkan sampai 10,2 ton/hektar. "Dengan demikian masyarakat bisa semakin yakin jenis padi si denuk ini lebih unggul dari jenis lain", ujar Nur Mahmudi.

Senada dengan Walikota, Dandim 0508 Letkol Inf Santosa mengatakan dengan perhitungan ubinan, hasil panen bisa mencapai dua kali lipat dari sistem tradisional. "Kita menggunakan sistem ipat bo, ternyata hasilnya luar biasa, mencapai 10,2 ton/hektar. Karena metode ini mempunyai beberapa keunggulan dan kita juga menggunakan bibit padi si denuk", jelas Dandim.

Nur Mahmudi jg menuturkan saat ini di bulan Juni, kita akan melakukan pemaneman sekitar 30 hektar. Sementara bulan depan akan ada masa panen yang lain, karena penanaman dilakukan pada waktu yang berbeda. Beliau menambahkan,  saat ini luas lahan pertanian di Depok yang eksisting ditanami padi seluas 164 hektar, dimana dari 164 hektar ini bisa sampai 300-an hektar luas panennya karena ada lahan yang bisa ditanami dua hingga tiga kali.

"Depok bukan kawasan untuk swasembada, tapi kita bertekad melahirkan sistem ketahanan pangan yang baik, melalui pola konsumsi yang bervariasi, penyediaan pangan yang baik, keamanan pangan yang bagus dan sebagainya yang terus harus kita kembangkan", ujar Walikota. Menurutnya yang istimewa dalam panen perdana ini ialah penanaman dilakukan bersama-sama antara TNI, Kemenristek dan kelompok tani dengan menggunakna sistem penanaman yang dikenalkan oleh Kemenristek yaitu metode ipat bo. Yang berbeda dari sistem ini ialah pola tanamnya, benihnya menggunakan bibit padi si denuk serta menggunakan pupuk bio atau organik.

Namun Dandim 0508 menerangkan pada tanaman padi masih menggunakan pupuk campuran yakni pupuk organik dan anorganik. Sedangkan jagung jenis hibrida yang ditanam telah sepenuhnya menggunakan pupuk bio atau organik. Pemerintah Kota Depok sendiri telah mengalokasikan pupuk subsidi kepada 15 kelompok tani yang ada di Depok. "Tapi dengan adanya pupuk bio atau organik yang dikenalkan oleh Kemenristek, kemungkinan tidak perlu pupuk subsidi lagi. Ini adalah opsi para petani untuk memilih menggunakan pupuk organik atau anorganik. Jika menjual padi organik lebih mahal, kan lebih untung", imbuh Walikota.

Dengan panen perdana dilahan pertanian dan lahan jagung dengan seluas masing-masing satu hektar ini, Dandim 0508 Letkol Inf Santosa ingin mengajak rekan-rekan petani diwilayah Depok untuk nersama-sama mencoba menanam dengan metode ini sehingga diharapkan produktifitas akan meningkat. (Mira)