Siaran Pers
Humas dan Protokol Setda Kota Depok
Senin, 9 Maret 2015
Pancoran Mas - Terkait dengan adanya laporan dari warga dan pemberitaan yang menyatakan Depok Kota terkotor di Jawa Barat, Wakil Walikota menyambangi Tempat Pembungan Sementara (TPS) dibelakang SMP N 2, Jln. Bangau Raya Depok 1. Turut mendampingi Camat Pancoran Mas, Lurah Depok Jaya, dan DKP Kota Depok. Disana Wakil Kota Belimbing disambut oleh Ketua RW 13 dan Satgas Kebersihan RW 13, Senin (09/03/15).
Salah satu anggota Satgas Kebersihan RW 13, Effendi Sireger menginformasikan bahwa sampah yang berada di TPS ini berasal dari RW 8, RW 13, SMPN 2, serta masyarakat sekitar. “Bahkan yang bukan warga sini pun, terkadang suka membuang sampah disini. TPS ini sudah sejak lama ada, tepatnya sejak ada Permunas disni. Jadwal pengangkutan sampah setiap Selasa dan Kamis. Ini menjadi menumpuk karna terakhir diangkut hari Kamis, jadi sudah empat hari, dan bsok pasti sudah bersih kembali. Sebenarnya TPSnya bukan disini, tetapi disana disebelah sungai,” ujar Siregar seraya menunjuk lokasi TPS sebenarnya (beberapa meter disamping kali) di belakang SMPN 2) dan menginformasikan biasanya dua truk sampah sekali angkut.
Ini bukan sidak, tetapi klarifikasi. Karena ada laporan warga terkait gunungan sampah di belakang SMPN 2. Selain itu ada salah satu media yang mengatakan Depok kota terkotor. Padahal, Depok mendapat nilai 73 dari Pusat, kurang dua poin lagi untuk meraih adipura. Karena hal itu, kami mengevaluasi. Dan kebeneran, orang Pusatnya adalah orang Tanah Baru. Jadimungkin pas mereka melihat sesuatu, difoto dan diinformasikan kepada kami agar kami bisa memperbaikinya, seperti yang terjadi hari ini.
“Ini sifatnya klarifikasi, bisa seperti ini, apa penyebabnya. Karena yang kami tahu bahwa RW 13 ini adalah RW yang sangat peduli terhadap masalah lingkungan dan pengolahan sampah, walaupun TPS belum begitu efektif. Bahkan, RW dan Satgas Kebersihannya mendapat penghargaan verbal,” tutur Idris Abdul Shomad, yang merasa kaget mendapat laporan ada gunungan sampah di belakang SMPN 2.
Setelah diklarifikasi, ternyata gunungan sampah terjadi karena TPS akan diperbaiki. Perbaikannya atas swadaya masyarakat. Pemerintah hanya member lahannya saja dan alkan kami cek seperti apa status lahannya, serta dibicarakan oleh dinas terkait agar lokasi TPS berjarak tiga meter setelah Garis Sempadan Sungai (GSS). “Penyelesaian sementara sebelum TPS jadi, kami akan menyiapkan container sehingga warga bisa membuangnya dikontainer dan tidak terjadi gunungan sampah seperti ini. Insya Allah bulan depan pembangunan TPS selesai dan semua sampah bisa ditampung. Kami juga akan minta bantuan dinas terkait untuk membantu warga melengkapi TPS dengan penutup sehingga tidak baunya tidak menyebar,” ujar pria kelahiran Jakarta yang langsung menginstruksikan DKP untuk mengangkut sampah.
Terkait dengan adipura, Wakil Walikota menyatakan tidak ada titik pantau. Semua daerah menjadi titik pantau. Tim penilai bisa melihat yang menurut mereka bisa menjadi fokus. Bisa saja titip pantau P1 tidak menjadi pantauan lagi saat P2. Penilaian tersebar diseluruh Depok. “Kami optimis dan harus kerja keras. Jangan sampai mendapat adipura tetapi masih kotor. Karena adipura tidak hanya kebersihan saja, tetapi juga budaya pemilahan sampah dan pola hidup bersih dan sehat,” ujar Idris Abdul Shomad menginformasikan, untuk jalan protokol sudah mendapat nilai diatas 75. (olas)