Siaran Pers

Jadi Nominator Sanitasi Award 2018, Depok Unggulkan Maggot dan SIPP KLING

-
  • Penulis: Adminstrator
  • Tanggal: 16 Oct 2018
  • Waktu: 16:15 WIB
 

Hingga saat ini sanitasi menjadi per soalan dasar manusia yang belum juga dapat terselesaikan. Untuk mewujudkan hal itu, Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menbuat sebuah apresiasi dengan Smart Sanitation Award (SSA).

Tahun 2018 ini, Kota Depok berhasil menjadi salah satu nominasi SSA, setelah melewati penilaian data yang diinput. Kota Depok pun berhasil masuk dalam 10 besar dari 170 kota/kabupaten yang ikut dalam ajang SSA ini.

Tak hanya data, penilaian pun mencakup beberapa katagori, seperti halnya inovasi. Terkait dengan inovasi, Walikota Depok Mohammad Idris membocorkan beberap inovasi yang ada. “Inovasi yang kami lakukan dan unggulkan dalam penilaian kali ini antara lain Sistem Informasi Pemetaan Profil Kesehatan Lingkungan (SIPP KLING),” kata Idris usai menerima Tim Penilai Verifikasi SSA di Aula Bougenvile Balaikota Depok, Selasa (16/10/18).

Aplikai SIPP KLING memberi kemudahan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Karena masyarakat lebih mudah untuk mendeteksi kondisi kesehatan di lingkungannya dengan cepat, akurat, dan mudah diakses. Ada beragam data yang yang terdapat dalam aplikasi tersebut. Diantaranya, data persentase rumah sehat, jamban, saluran pembuangan air limbah, sanitasi tempat umum, sanitasi tempat pengelolaan makanan yang dapat ditampilkan dalam bentuk grafik dan peta.

Selain SIPP KLING, kami juga berinovasi dengan maggot untuk pengelolaan sampah organic. Maggot adalah belatung. Maggot dapat memakan sampah organic sehingga bermanfaat dalam mengurai sampah  dan membuat sampah tidak berbau. Maggot juga berpotensi dan bernilai ekonomi, karena mengandung protein yang sangat tinggi. Protein yang dimiliki maggot lebih tinggi dibandingkan kroto anak semut.

Tak hanya itu, Pemerintah Kota Depok juga terus berupaya untuk menyelesaikan masalah septictank, karena seharusnya nol persen, jadi tidak ada lagi masyarakat yang memakai jamban. “Untuk persentase saat ini, diperkirakan masih sekitar2-5% warga Depok yang menggunakan jamban, presentasi tersebut sudah berkurang dari kondisi sebelumnya yang ratusan,” kata Idris. (olas)

Depok, 16 Oktober 2018

Sub Bagian Humas dan Dokumentasi

Sekretariat Daerah Kota Depok