Siaran Pers

Idris : Jangan Abaikan Nilai Yang Sifatnya Orisinal

-
  • Penulis: Adminstrator
  • Tanggal: 06 Apr 2017
  • Waktu: 07:55 WIB
Protokol dan Dokumentasi Setda Kota Depok
Kamis, 6 April 2017

Dokumentasi dan Humas – Jangan mengabaikan nilai-nilai yang sifatnya orisinal. Karena dengan Qira’atil Kutub kita bisa menjaga universalitas islam atau menjaga ajaran islam pada ajaran ulama terdahulu dengan hal-hal yang bersifat modern.

Hal tersebut disampaikan Walikota Depok Mohammad Idris saat membuka lomba Musabaqoh Qira’atil Kutub (MQK) di Pondok Pesantren As-Sa’adah, Cipayung Depok, Kamis (06/04/17) pagi. Lomba diikuti oleh 145 peserta santri dari 14 pesantren yang ada di Kota Depok. Lomba terbagi dalam tiga tingkatan dengan materi yang berbeda-beda, yaitu mrhalah ula, marhalah wustho, dan marhalah ulya. Tak hanya itu, ada pula lomba debat dalam bahasa inggris.

Dalam kesempatan itu, Kepala Kemenag Kota Depok, Chalik Mawardi menginformasikan tujuan lomba adalah untuk meningkatkan kemampuan para santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu agama Islam bedasarkan sumber kitab-kitab berbahasa arab. “Semoga lomba ini bisa mempererat tali persaudaraan antar sesame pondok pesantren di Kota Depok. Dan semoga lomba ini dapat meningkatkan peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam yang mencetak kader ulama dan tokoh masyarakat dimasa depan,” ujarnya menginformasikan, pemenang lomba bisa saja mewakili provinsi pada perlombaan MQK tingkat Nasional pada september mendatang.

Walikota Depok menghaturkan terima kasih kepada Kemenag Depok yang telah menyelenggarakan lomba ini. “Jangan jadikan kegiatan ini sebagai lomba untuk menjadi juara dan mendapat hadiah saja. Tetapi jadikan momentum ini untuk mengembalikan kembali peran santri dalam memperjuangkan bangsa seperti dimasa lalu. Karena para ulama dan santrilah yang mempunyai peran penting terhadap kemerdekaan Indonesia. Semoga lomba MQK ini mampu menjadikan santri sebagai penerus ulama yang orisinil dan modern. Tidak menjadi kolot atau konservatif dengan modernitas dan anti perubahan. Sehingga bisa menjadi pemimpin bangsa,” harapnya. (olas)