Siaran Pers
Humas dan Protokol Setda Kota Depok
Rabu, 3 Agustus 2016
Walikota Depok, Mohammad Idris yang saat ini berpasangan dengan Pradi Supriatna sebagai Wakil Walikota, merupakan alumni Pondok Pesantren Modern Gontor. Ditemui di ruang kerjanya, di lantai 2, Gedung Balaikota Depok, Rabu (3/8/2016) dirinya menceritakan sedikit kisahnya selama mengenyam pendidikan di Gontor.
“Bapak dan paman saya memilihkan saya untuk mengenyam pendidikan di Gontor, mungkin dengan pertimbangan karena dari anak-anaknya belum ada yang masuk jurusan agama sebelumnya,”ujar Idris mengungkapkan awal masuk ke Gontor. Namun suasana belajar di Pondok Pesantren yang mengedepankan kedisiplinan tidak menjadi suatu hambatan bagi pria kelahiran 25 Juli 1961 ini. “Saya pribadi sudah ditanamkan disiplin dan kemandirian oleh bapak dan ibu. Jadi saya sudah terbiasa dengan keadaan di pesantren,” kata Walikota.
Banyak pelajaran yang didapat di dalam pesantren, namun pelajaran yang disukai pria yang telah dikaruniai seorang cucu ini mengatakan bahwa pelajaran favoritnya ialah berhitung (matematika). “Untuk pelajaran umun, saya suka berhitung. Sedangkan untuk Bahasa Arabnya, yang saya senangi itu Imla,” terang Walikota.
Dirinya juga mengenang ketika pernah mendapat hukuman sewaktu mengenyam pendidikan di Gontor. “Waktu itu, pernah saya dihukum karena keluar pesantren untuk bertanding basket tapi tidak minta izin. Kala itu kita sudah berasumsi jika kita minta izin, tidak akan dikasih. Konsekuensinya dibotakin dan disuruh menyapu didepan rumah kyai,” kenang Idris.
Walikota juga mengatakan, usai mengenyam pendidikan di gontor selama 6 tahun, dirinya mendapat pilihan untuk mengabdikan di diri di Gontor dengan mengajar atau tidak. Dan dirinya memilih untuk ‘pulang’. “Dari pendidikan di Gontor ini saya belajar kaderisasi pemimpin, utamanya bagaimana seorang pemimpin mempunyai kecerdasan sosial, dengan berbagai macam bentuknya,” ungkap Idris. Selain itu, ia juga mengenang saat pernah menjadi pengibar bendera dan pengawal pasukan presiden.
Ayah dari 6 orang anak ini, saat mengenyam pendidikan di Gontor, juga pernah melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa. “Waktu itu saya sudah menjadi Pembina pramuka, saya bersama 6 orang kawan pramuka saya, melakukan perjalanan keliling Jawa, ongkosnya sepuluh ribu waktu itu,” kenangnya. Perjalanan keliling Pulau Jawa tersebut dilakukannya bersama teman-teman pramuka saat bulan puasa. Rute yang ditempuh diawali dari Ponorogo, Trenggalek, ke daerah selatan dan berakhir di Bandung.
Suami dari Elly Farida ini juga menuturkan, saat ia di Gontor, banyak pelajaran yang didapat diantaranya bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat.”Saya banyak mendapat pelajaran dari Pak kyai bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dengan berbagai triknya. ‘Omelan-omelan’ kyai pada saat kita melakukan kesalahan, besar maknanya. Seperti masalah etika, kesalahan bertutur kata, ketidakdisiplinan, tidak ontime, kita akan dimarahi atau dihukum, itu ternyata bermakna,” kenang Idris.
Menurutnya, pendidikan di Gontor juga sangat korelatif dengan pendekatan pendidikan anak. “7 tahun pertama usia anak, dengan pendekatan bermain. Mengajarkan solat dan apapun dengan cara bermain. 7 tahun kedua mendidik anak dengan pendekatan kedisiplinan. Dan 7 tahun ketiga dengan pendekatan menganggap anak sebagai teman. Ajak anak seperti teman, karena di usia tersebut anak sudah tidak bisa dimarahi, tapi kita rangkul seperti teman. Itulah metode pendidikan di Gontor,” terang Idris.
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Depok juga mengulas tiga program yang unggulan yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016-2021. “Yang pertama Zero Waste City, diharapkan Depok bersih Tahun 2021. Kedua, Smart Healthy City, tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ketiga, Smart Family Resiliency, tentang ketahanan keluarga,” ujar Idris. (Mira)