Pemeriksaan & Pengobatan TB di Puskesmas Depok Gratis
-
Penulis:Adminstrator
Tanggal:30 Dec 2015
Waktu:07:47 WIB
Balaikota – Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) Kota Depok menemukan 1400 suspect tuberculosis (TB).
Hal tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Jejaring Lintas Sektoral Penanggulangan Tuberkolosis. Rakor berlangsung di Aula Bappeda Lt. 3 Dibaleka, Rabu (30/12/15). Walikota Depok Nur Mahmudi Isma’il mengatakan setelah PPTI melakukan pendataan, terdapat 1400 suspect/diduga menderita TB. Setelah diperiksa lebih detail, 10% diantaranya dinyatakan positif. Saat ini, sekitar 140 orang yang positif TB dalam proses pengobatan,” terang pria kelahiran Kediri.
Beliau menuturkan temuan PPTI merupakan pasien baru. Sebelumnya Dinas Kesehatan telah mengobati sekitar 700 pasien. Dengan gerakan dari PPTI, total pasien yang melakukan pengobatan menjadi sekitar 900 pasien. “Saya yakin dengan kerjasama dan keaktifan Dinkes, PPTI, FKDS, PKK, dan organisasi-organisasi peduli TB bisa membuat kota Depok bebas dari TB. Kita harus terus menyadarkan dan melakukan proses penyisiran serta pendataan terhadap seluruh warga untuk mengetahui apakah mereka menderita TB atau tidak. Bila ternyata positif, harus segera diobati, pengobatannya gratis,” tutur Nur Mahmudi.
Terkait dengan kesadaran, pria lulusan Amerika ini mengatakan, ada orang yang memang tidak tahu sama sekali, tidak memiliki waktu, dan tidak mau. “Repot bila orang tahu tapi tidak mau menyadarinya. Bila memang tidak punya waktu, kami bisa mendatangi mereka yang meminta dicek. Karena bila disekitar kita ada satu orang yang positif TB, kemungkinan lima sampai sepuluh orang disekitarnya juga akan positif TB. Datanglah ke puskesmas untuk mengecek. Pengecekan laboratorium hingga pengobatan tidak dikenakan biaya,” himbau Walikota seraya menginformasikan, kami juga memiliki tenaga Pengawas Menelan Obat (PMO). Hal itu karena pengobatan dilakukan selama enam bulan dan harus dilakukan pendampingan. Tenaga PMO juga sudah dilatih.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok dr. Noerzamanti Lies Karmawati menekankan pentingnya melibatkan elemen masyarakat dalam beragam kegiatan Stop-TB. Inti rakor ini untuk membentuk suatu kemitraan dari semua organisasi sehingga bersama-sama melakukan kegiatan stop-TB di kota Depok. Orang yang tidak punya waktu dan tidak peduli dengan TB akan berdampak pada orang lain. Karena penyakit tersebut akan menulari lima orang lain disekitarnya. “Semoga terbentuk kemitraan untuk menghentikan kasus TB di kota Depok,” harap wanita yang akrab disapa dr. Lies. (olas)